Sejarah Singkat Pondok Pesantren Darul A’mal


Pondok Pesantren Darul A’mal adalah pondok rintisan Almarhum Almaghfurlah Hadhrotus Syekh KH. Khusnan Musthofa Ghufron. Hodhrotus Syekh Romo KH. Khusnan Musthofa Ghufron adalah seorang aktifis yang memiliki kapabilitas yang sangat tinggi. Beliau aktif pada organisasi terbesar Nahdlotul Ulama selama kurang lebih 10 tahun, sehingga pada saat itu beliau dijuluki Si Singa Putih Penjaga Rimba Ulama Lampung. Pada tahun 1987 beliau memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama untuk mendedikasikan dirinya pada masyarakat luas. Beliau merintis berdirinya Pondok Pesantren Darul A’mal yang berlokasi di Jl. Pesantren, Mulyojati 16 B metro Barat, dengan salah satu sahabatnya yaitu KH. Syamsudin Tohir.

Dalam mendirikan bangunan, beliau membeli sebidang tanah sedikit demi sedikit dan meluaskan daerah pondok pesantren secara berkala, begitu juga dalam pembangunannya beliau juga memulainya dengan membangun bangunan kecil dan secara terus menerus hingga akhirnya memiliki beberpa bangunan besar. Pada tahun 1989 datanglah beberapa santri dengan kegiatan ubudiyah dan mengaji secara bandongan di musaholla dan beberapa gutaen (kamar) yang telah dibangun. Dalam perkembangannya jumlah anak yang ingin mengaji dan mondok semakin banyak, sehingga pada tahun 1990 beliau mendirikan lembaga formal yaitu Madrasah Tsanawiyah.

Pondok Pesantren Darul A’mal semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas, sehingga animo masyarakat semakin tinggi. Dengan dorongan dan desakan itulah akhirnya pada tahun 1993 beliau mendirikan lembaga formal lain yaitu Madrasah Aliyah bersama dengan pendirian SD asuh, dan pada tahun 2008 didirikan lembaga formal yang setingkat dengan Madrasah Aliyah yaitu lembaga pendidikan SMK yang berkonsentrasi pada keilmuan komputer.

Saat ini pondok Pesantren yang berdiri di lahan seluas ± 5 Ha ini sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dari sektor kualitas dan kuantitas santrinya, maupun sektor sarana dan sarana penunjangnya. Hal ini dibuktikan dengan selalu diikutkannya siwa/santri dalam event-event lokal maupun nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Upaya pembinaan dan penetaan terus dikembangkan dengan dibangunnya asrama baru, perluasan masjid dan ruang belajar.

Kondisi Lingkungan Pesantren

Kondisi sosial budaya masyarakat
Penduduk yang tinggal disekitar pondok pesantren ini kebanyakan dari penduduk pindahan dari daerah maupun kota lain. Suku yang paling dominan disana adalah suku Jawa, bahasa sehari-hari juga menggunakan bahsa Jawa. Selain itu, penduduk yang tinggal disekitar pondok pesantren lebih banyak di dominasi oleh organisasi besar yaitu Muhammadiyah, namun semuanya tetap menjunjung tinggi toleransi dalam perbedaan organisasi Islam dan menjunjung tinggi rasa saling menghormati.

Kondisi ekonomi masyarakat
Penduduk yang berada di sekitar pondok pesantren kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah, hanya sebagian penduduk yang dari kalangan menengah ke atas. Masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, guru, buruh dan karyawan. Semakin berkembangnya pondok pesantren ini, maka perekonomian masyarakat sekitar juga berkembang, banyak masyarakat yang sekitar yang menambah penghasilan dengan berdagang.